7.29.2011

Suami Stroke, Darti Mengais Beras di Cipinang


Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
2311278p Suami Stroke, Darti Mengais Beras di Cipinang
IMANUEL MORE GHALE
Darti (45), sedang mengumpulkan ceceran beras yang terbuang di lantai sebuah kios di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta Timur, Kamis (28/7/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kelelahan tampak jelas di wajah Darti (45). Namun, ia tetap berusaha menggerakkan tangannya mengayunkan sapu untuk mengumpulkan butir demi butir beras yang tercecer di lantai Kios yang terletak di Blok 1B No.12, Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Kamis ( 28/7/2011 ) siang.

Lapar, lelah, dan beban fisik lainnya harus dikesemping oleh perempuan asal Loyang, Indramayu, Jawa Barat ini. "Besok (Jumat,  29/7/2011 ) sore, saya harus pulang ke kampung membawa ini (beras) buat anak-anak dan suami. Ini makanan kami sekeluarga," tutur Darti.

Tidak hanya unsur penyambung hidup, dari sampah berujud beras itulah ia menopang kehidupan ekonomi keluarganya, termasuk membiayai sekolah dua anaknya. Darti menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya, seorang buruh tani, terkena stroke. "Sejak dua tahun lalu," tuturnya.

Ia terpaksa harus mengambil alih peran suaminya. Pekerjaan sebagai "kuli nyangkul" sayangnya, tidak mampu mencukupi kebutuhan pasangan suami-isteri dengan tiga anak itu. "Dulu, saya juga bantu sebagai kuli nyangkul. Lha, kalau sekarang sendirian, mana cukup!" kata Darti.

Kehidupan di desa tak memberikan kesempatan baginya untuk menyambi pekerjaan lain. Jerat utang pun semakin mencekik. Cara satu-satunya yang dilihat Darsi adalah mencari peruntungan di Ibukota. Ia pun nekat berangkat ke Jakarta menumpang kereta Tegal Arum pada awal Januari 2011. "Waktu itu nggak jelas mau ke mana. Yang penting ke Jakarta," kisahnya.

Di Stasiun Senen, ia sempat kebingungan. Ia lantas mengikuti seorang yang menuju PIBC. Saat itulah awal rutinitasnya sebagai pengumpul beras yang terbuang alias penyapu. "Awalnya dia nyapu-nyapu di jalan depan (di depan blok 1B). Karena kasihan, bos kami nyuruh dia untuk bantu-bantu di sini," kata Jumadi.

Sejak itu, Darti menjadi pengumpul beras di lima unit kios Harsono Rusli yang kerap dipanggil Kho Ayong. "Jam 5 pagi sudah di sini, bersih-bersih. Terus bantu ngisiin beras ke karung. Beras yang jatuh ke lantai nanti buat saya," kata Darsi menyebutkan imbalan kerjanya. Pekerjaan itu dilakukannya hingga sekitar pukul 18.00 atau sampai pukul 21.00, tergantung waktu buka kios-kios tersebut.

Ia melanjutkan, saat banyak pembeli yang datang, penghasilannya juga akan bertambah besar. "Kalau lagi ramai, saya bisa dapat sampai 15 liter (ceceran beras). Kalau hari ini baru segini, sekitar 4 liter," ungkap Darti.

Setelah kios-kios itu ditutup, Darti memanfaatkan teras yang ada sebagai tempat bermalamnya. "Saya tidur di sini," katanya menunjuk tempat dia berada saat itu.

Beras yang terkumpul kemudian ditampi dan dibersihkan. Sebagiannya akan dijual. "Rp 3.000 seliter," kata Darsi menyebut harganya. Uang yang diperoleh beserta sebagian beras yang tidak dijual akan dibawa ke kampungnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. "Dari makan-minum sampai ongkos sekolah dua anak saya, ya dari sini," katanya. Putri sulung Darti saat ini duduk di kelas 3 SD, anak keduanya kelas 1 SD. Sedangkan si bungsu saat ini berusia 3 tahun.

Ia tak memungkiri, naluri keibuan mendorongnya untuk berupaya pulang sesering mungkin. "Kalau bisa setiap akhir pekan, hari Jumat (pulang ke kampung). Kalau nggak, dua minggu sekali," katanya. Biaya transportasi yang lumayan besar menurut ukurannya menjadi kendala terbesar. Menumpang Kereta Api dari Stasiun Senen hingga Stasiun Trisi membutuhkan biaya Rp.20 ribu. Dari stasiun, ia harus menumpang ojek untuk mencapai kampungnya dengan ongkos sebasar Rp 20 ribu. "Jadi, kalau pulang-pergi biayanya sekitar seratus (ribu)," katanya lirih.

Darti mengakui, pekerjaan ini cukup menguras fisik dan mentalnya. Jarak yang memisahkan dirinya dengan keluarga disebutnya sebagai gangguan utama. Selain itu, penghasilan yang didapat juga tak seberapa besar, ’sekadar gali lubang tutup lubang’. Namun, semuanya itu tak menggoyahkan semangatnya sebagai tulang punggung keluarga. "Yang penting kami masih bisa terus hidup dan duitnya halal," pungkas Darti.

Source: kompas megapolitan

Berita Lain:

+ Arsip Berita Indonesia - Suami Stroke, Darti Mengais Beras di Cipinang.


dewa 29 Jul, 2011


--
Source: http://arsipberita.com/show/suami-stroke-darti-mengais-beras-di-cipinang-278100.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Berita Unik Seputar Dunia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com